Jauh

Seharusnya, dari awal kita tidak usah saling tahu bahwa kita sama-sama hidup di bumi. Memijakkan tanah yang sama. Memandang langit yang sama. Menghirup udara yang sama. Seharusnya aku tidak perlu tahu bahwa kamu kamu diciptakan oleh-Nya. Tapi karna sudah terlanjur dan kamu cukup bisa mengambil posisi dalam hatiku, aku jadi bertanya. 


Apakah ini datangnya dari Allah? 

Bukan aku yang membuat perasaan ini sendiri? 


Namun sekarang ini kata seharusnya kuhapus. Ya, karna aku percaya bahwa setiap detik yang kita lalui dalam hidup banyak atau sedikit pasti sudah ditakdirkan oleh Allah, sudah dikemas seperti ini, pasti ini atas kuasa dan campur tangan-Nya, meski tak tahu tujuannya apa. 


Bukankah seorang hamba sangat lemah untuk mencari jawabannya? 


Seperti sosokmu yang tak pernah kutahu apa maksudnya Allah menunjukkan bahwa kamu ada di bumi ini. Aku sama sekali tidak masalah dengan ditunjuknya kamu. Tapi, aku sangat sadar bahwa aku yang bermasalah. Hatiku yang bermasalah. 


Apakah ini juga pelajaran dari Nya? 


Mencoba menarik perhatiannya, tapi mungkin aku tidak cukup menarik. Bukan. Bukan aku insecure, tapi aku cukup sadar diri dan tahu diri. Tidak mudah memang untuk menggapai bulan yang indah di antara gelapnya malam. Memandangnya saja sudah membuatku terpesona. Aku tidak masalah apabila tertatih-tatih untuk menggapai bulan itu, tapi apakah aku cukup siap untuk menghadapi kenyataan bahwa seharusnya bulan hanya untuk dipandang, bukan untuk dimiliki. 

Komentar

Postingan Populer