(Hanya) SOAL WAKTU
Dulu, sekitar lima belas tahun yang lalu, aku pernah mencoba menyapa seseorang dan berharap bisa lebih dari sekadar sapa. Nyatanya, aku diabaikan. Mungkin baginya aku tidak cukup layak untuk mendapatkan perhatiannya.
Aku masih ingat, awal tahun 2023 tepatnya bulan Januari, dia menyapaku melalui sosial media. Ya, dia adalah orang yang pernah kusapa waktu itu. Sayangnya, dia tidak hanya sekadar menyapa, tetapi mencoba masuk ke dalam hidupku. Padahal sedikitpun aku tidak pernah memintanya untuk dihadirkan dalam hidupku. Iseng. Pikirku saat itu.
Tidak hanya saling bertukar kabar, tapi kita juga saling memberikan kabar, menanyakan kegiatan, sedikit banyak memberikan perhatian, saling menguatkan. Kali ini aku mengakui keahliannya dalam menarik perhatianku.
"Mungkinkah keinginanku yang dulu pernah tertunda, diwujudkan sekarang?"
Satu bulan yang sangat menghangatkan hati, menyegarkan pikiran, membangkitkan jiwa. Ternyata kehadirannya adalah hal yang cukup aku syukuri. Terlepas dari segala drama yang ada di hidup kita masing-masing.
Tidak terasa kita semakin intens dalam berkomunikasi, mencari satu sama lain, mencoba saling mengerti. Dia baik. Sangat. Tapi, di dalam hatinya bukan aku. Aku tahu itu, bahkan sejak awal. Aku tidak keberatan dengan hal itu. Biar. Apabila kita adalah takdir, dengan mudah Allah akan membolak-balikan hatinya. Pernah aku mencoba pergi, tapi dia menginginkan aku kembali.
"Kalau kita adalah yang terbaik, maka sejauh apapun kamu pergi, aku akan kembali bersamamu." Katanya malam itu.
Satu sisi aku ingin bersama dia, bagaimana tidak? Dia yang dulu pernah kudambakan, hadir tanpa kuminta. Kedekatan ini adalah harapanku. Sisi lain, apakah aku siap dengan sikapnya? Seolah-olah mau tak mau denganku. Seolah-olah menjadikanku satu-satunya saat ini tapi berubah lagi beberapa hari setelahnya. Menegaskan untuk tidak terlalu berharap dengannya, tapi seakan dia akan menjadikanku rumahnya.
Tapi ternyata, setelah dia memintaku kembali, dia yang meninggalkanku. Setelah dia mencoba meyakinkanku, dia yang ragu. Setelah aku mencoba bertahan, dia yang runtuh. Lantas, maunya apa? Ternyata maunya adalah bermain dengan perasaanku.
Harusnya aku sadar sejak awal.
Harusnya aku tidak terburu-buru dalam membukakan pintu hatiku untuknya.
Harusnya ketika dia memintaku kembali, kubiarkan saja.
Harusnya aku peka dengan sinyal yang dia berikan, jangan terlalu berharap denganku, aku gak mau kamu terluka. Oh ternyata itu bukan sinyal, tapi peringatan.
Berhenti. Akhirnya kami berhenti berkabar, yang artinya kami berhenti untuk segalanya. Tidak ada rasa marah, kecewa, sedih, kesal kepadanya. Tapi aku muak dengan perilakunya. Bahkan ketika mengetahui bahwa dia mendekati orang lain, aku sudah biasa saja. Bahkan ketika menulis ini pun aku sudah baik-baik saja.



Komentar
Posting Komentar